oleh

Memutus Benang: Berhenti Menjadi Boneka di Panggung Orang Lain

Penulis: Kiyasa Rafika
(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Djenderal Soedirman)

Di era di mana layar ponsel menjadi jendela utama dunia, Banyak oranng yang tidak mengetahui arah hidupnya. Beberapa orang bahkan mungkin kehilangan kompas hidupnya, tidak tau arah. Kita sering kali tanpa sadar memungut kebahagiaan orang lain dari apa yang terlihat di media sosial, lalu menjadikan sebuah cuplikan kecil itu jadi standard kebahagiaan hidup kita sendiri. Dampaknya, kita tidak menjadi pemeran utama dalam hidup kita sendiri, melainkan menjadi boneka yang digerakkan oleh ekpektasi-ekpektasi publik ataupun orang lain. Menari dibawah tarikan yang dikendalikan oleh orang lain.  Yang seharusnnya ia dengan bebas menari kesana kemari tanpa tali, lalu ia terbelenggu dengan ekspektasi ekspektasi orang lain yang menjadikan ia tidak bebas menjadi diri sendiri.

Hidup bukan soal mana yang cepat sampai pada garis finish, hidup bukan soal mencapai satu garis finish yang seragam. Kemenangan tidak dinilai dari siapa yang lebihh cepat sampai. Tapi siapa yang mau berjuang sampai akhir. Karena pada dasarnya, semua manusia punya goals hidupnya masing masing. Maka, menjadikan pencapaian hidup orang lain menjadi pacuan kesuksesan pribadi adalah suatu hal yang sia sia dan sangat melelahlan. Semua orang punya passion dan tujuannya masing masing. ketika kita berfokus pada lintasan orang lain, kita justru kehilangan momentum untuk memacu potensi di lintasan kita sendiri. Kita sibuk mengikuti trend bagaimana orang terlihat sukses di media social, tapi kita lupa kita punya passion dan batasan kemampuan kita sendiri. Sampai kapanpun, kita tidak akan bisa jadi orang lain.

Kita perlu menyadari bahwa hidup bukanlah tuntutan untuk menjadi “sempurna” atau menjadi “siapa” menurut definisi dunia. Sebaliknya, hidup adalah perjalanan mencari kebahagiaan dengan cara yang paling autentik. Menjadi diri sendiri tanpa tekanan eksternal adalah bentuk kemerdekaan yang sesungguhnya. Sering kali kita lupa bahwa kendali atas kebahagiaan itu ada di tangan kita, bukan pada penilaian orang yang bahkan tidak memahami perjalanan kita. Sering kali kita lupa untuk hidup bebas tanpa bergantung kepada  orang lain. Serin kali kita lupa bahwa kita punya kendali atas hidup kita sendiri.

Ketidakmampuan untuk melepaskan diri dari standar orang lain inilah yang menjadi akar dari burnout. Kita merasa lelah luar biasa karena kita terus mengejar sesuatu yang sebenarnya kita tidak inginkan. Kita merasa lelah sebab kita terlalu terpaku pada semua tuntutan yang ada. Akibatnya, kita menjadi terlihat sedikit “lambat” dimata orang lain. Padahal kita hanya sedang tersesat dijalan yang salah. Kelelahan mental ini adalah sinyal dari jiwa bahwa kita telah terlalu lama mengabaikan passion dan jati diri demi memuaskan penonton di luar sana.

Sudah saatnya kita memotong tali-tali yang membelenggu itu. Menjadi “bebas” bukan berarti tidak memiliki tujuan, melainkan memiliki keberanian untuk berjalan di atas tujuan yang kita tentukan sendiri. Karena pada akhirnya, kebahagiaan tidak ditemukan di garis finis milik orang lain, melainkan dalam setiap langkah kaki yang kita ambil dengan jujur sebagai diri sendiri.

“Setelah aku melepaskan belenggu itu dan jalan sesuai apa yang aku mau. Mungkin perjalanan ini akan sedikit lambat, tapi aku akan selalu percaya bahwa aku akan sampai dititik yang aku harapkan nanti. Karna sekecil apapun langkahnya, dengan hati yg penuh tulus tidak akan pernah menjadi sia sia”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *