Pewarta : Jeky Epsa
Koran Sinar Pagi, Sumedang — Ada target yang lebih besar di balik hamparan lahan jagung seluas sekitar 50 hektare di Kecamatan Tanjungmedar, Kabupaten Sumedang.
BAZNAS Kabupaten Sumedang bersama 50 petani binaan tengah menjalankan Program Lumbung Pangan. Namun, program tersebut tidak dirancang sebatas menghasilkan jagung.
Ada misi pemberdayaan ekonomi yang ingin dicapai: mengubah penerima manfaat zakat atau mustahik menjadi pribadi yang mandiri dan kelak mampu menjadi muzaki.
Ketua BAZNAS Kabupaten Sumedang H. Ayi Subhan Hafas menegaskan, pola pemberdayaan dilakukan secara berkelanjutan. Petani tidak hanya menerima bantuan bibit, tetapi juga mendapatkan pendampingan dari proses penanaman hingga panen.
Setelah satu siklus selesai, petani diharapkan dapat kembali melakukan penanaman sehingga program tidak berhenti pada satu kali bantuan.
“Harapannya bagaimana mengubah seorang mustahik menjadi muzaki, bahkan menjadi mutashaddiq,” ujar Ayi, Senin (05/10).
Langkah tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Sumedang. Program Lumbung Pangan dinilai dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kapasitas ekonomi masyarakat.
Meski demikian, tantangan berikutnya adalah memastikan petani memiliki kemampuan mengelola kelompok dan mendapatkan kepastian pasar untuk hasil produksinya.
BAZNAS RI pun menilai pendampingan menjadi faktor penting. Direktur Pemberdayaan BAZNAS RI Agus Siswanto menyebut asesmen terhadap kesiapan dan motivasi petani harus dilakukan sejak awal agar program memiliki peluang keberhasilan yang lebih besar.
Pada akhirnya, 50 hektare lahan tersebut diharapkan tidak hanya dipenuhi tanaman jagung.
Yang ingin “ditanam” BAZNAS adalah kemandirian ekonomi.
Sebab, keberhasilan pemberdayaan zakat bukan hanya ketika bantuan tersalurkan, tetapi ketika penerima manfaat mampu berdiri sendiri, berkembang, bahkan suatu hari ikut membantu orang lain.








Komentar