Penulis: Ning Uswah Syauqie (Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto dan Penulis Buku “Jodoh di Tangan Tuhan, Selebihnya Hasil Lobian”)
Sebenarnya, kalau ngomongin Gen Z dan anak muda sekarang, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa mereka ini kurang literasi. Karena, sebenarnya, literasi itu luas dan tidak bisa diukur dari satu barometer kalau masyarakatnya suka baca berarti literasinya tinggi. Kalau nggak suka baca berarti rendah. Pengalamanku sendiri ketika pertama kali menginjakkan kaki di Mojokerto tak anggap literasinya rendah, karena minim toko buku, lebih banyak warung kopi bahkan kafe menjamur. Tapi hal itu terpatahkan ketika kita mencari zona nyaman literasi yang sudah terbentuk dari lingkungan kita sendiri, orang tua yang selalu mengusahakan supply buku-buku agar kita bisa dapat membaca bergizi gratis, lalu mencari orang-orang yang suka buku. Masuk komunitas baca, follow akun-akun yang bahas buku, berteman dengan orang yang suka baca, nulis, bikin review buku, atau ikut diskusi. Setelah itu aku tidak lagi menganggap bahwa Mojokerto itu literasinya rendah. Ternyata Mojokerto itu literasinya tinggi, ketika pandai-pandai mencari teman yang sefrekuensi. Ternyata aku tidak sendiri dan jadi pick me si paling literasi. Bisa jadi kita memang belum berada di lingkungan yang mempertemukan kita dengan orang-orang yang punya ketertarikan yang sama.
Apalagi sekarang kita hidup di era digital dan jihad algoritma. Apa yang sering kita lihat, itulah yang akan terus muncul di media sosial kita. Kalau kita sering mencari buku, algoritma akan menyuguhkan buku lagi, buku lagi. Tapi kalau yang kita cari adalah hiburan, tren, atau konten lainnya, ya itulah yang akan memenuhi timeline kita.
Tapi kalau kita memang ingin men-challenge diri kita yang book lover menularkan minat baca ke pelajar atau gen Z kita bisa lakukan beberapa hal yang anti mainstream. Kita bisa masuk ke dunia mereka. Kalau mereka suka media sosial, ya hadirkan buku melalui media sosial. Bikin konten buku yang menarik, relatable. Kalau mereka suka ngopi dan nongkrong, kenapa tidak membuat diskusi buku di warung kopi atau toko buku? Bahkan kalau perlu, kampanye mencintai literasi dibuat dengan gaya yang memang mereka konsumsi setiap hari dan menjadi bagian dari gaya hidup.
Pernah suatu waktu aku mengikuti bedah buku “Dari Dalam Kubur” karya Soe Tjen Marching di Warung Rakyat, awalnya merasa nanti tidak punya teman, takut yang datang sedikit karena bukunya sendiri buku dengan tema tepi jurang kritikan terhadap pemerintah, memangnya ada ya anak muda yang menyukai buku kayak gini? Aku memberanikan diri berangkat dengan satu teman. Dan ternyata ketika datang di acara itu peminatnya buanyak banget. Dan kebanyakan yang hadir adalah adik-adik pelajar tingkat SMA dan mahasiswa. Jadi literasi rendah itu hanya perasaan kita saja.
Minat baca itu perlu dipupuk sejak awal dengan menciptakan pengalaman bahwa membaca itu menyenangkan, rekomendasikan buku-buku yang menarik, bisa bekerja sama dengan perpustakan setempat milik dinas atau pribadi dan mengadakan event-event membaca buku, bahkan sekarang yang lagi tren di antara anak muda itu “membaca senyap” dan kegiatan ini sudah ada rutin di Mojokerto. Karena pada dasarnya, gen Z itu gampang FOMO dengan sesuatu dari lingkungan. Kalau kita berada di lingkungan yang suka membaca, berdiskusi, bertukar rekomendasi buku, atau bahkan sekadar membicarakan buku yang baru selesai dibaca, lama-lama rasa penasaran itu bisa muncul. Maka tunjukkan pesona aksara untuk generasi dengan literasi yang membara.
“Selamat Hari Literasi Internasional atau Hari Aksara Internasional yang diperingati pada tanggal 8 September setiap tahunnya. Dan Selamat menyambut Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap tanggal 14 September di Indonesia”









Komentar