Pewarta: Dwi Arifin
(Koran SINAR PAGI)-, Ketika gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dampaknya tidak hanya merusak rumah warga, tetapi juga mengganggu rasa aman masyarakat. Sejumlah bangunan tempat tinggal mengalami kerusakan parah, sementara fasilitas umum seperti rumah sakit dan masjid turut terdampak. Di tengah gempa susulan yang masih terjadi, banyak warga memilih bertahan di lokasi pengungsian karena khawatir kembali menempati rumah mereka.
Merespons kondisi tersebut, Institut Teknologi Bandung melalui ITB Peduli bersama Rumah Amal Salman bergerak menuju wilayah terdampak untuk mendampingi masyarakat dalam masa tanggap darurat. Kehadiran tim tidak hanya membawa bantuan kemanusiaan, tetapi juga menghadirkan solusi yang dirancang berdasarkan kebutuhan masyarakat di lapangan, yakni penyediaan shelter berupa tenda keluarga dan tenda komunal tipe A sebagai tempat berlindung sementara serta akses air bersih bagi warga di pengungsian.
Langkah ini menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi untuk tidak berhenti pada pengembangan ilmu pengetahuan di ruang akademik, tetapi turut menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui aksi yang berbasis keilmuan dan kebutuhan di lapangan. Melalui ITB Peduli, berbagai sumber daya kampus mulai dari tenaga ahli, alumni, relawan hingga pengetahuan yang dimiliki dikerahkan untuk membantu warga terdampak bencana.
Tim ITB Peduli berangkat menuju wilayah terdampak pada pertengahan Agustus 2026 dengan tujuan Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai. Wilayah tersebut dipilih berdasarkan data BMKG yang menunjukkan Reok sebagai salah satu daerah yang mengalami dampak cukup berat akibat gempa.
Setibanya di lokasi, tim melakukan observasi untuk melihat kondisi dan kebutuhan masyarakat secara langsung. Asesmen tidak hanya dilakukan pada tempat tinggal warga, tetapi juga fasilitas kesehatan. Hasil pemetaan kebutuhan tersebut menjadi dasar bagi tim dalam menentukan bentuk bantuan yang akan diberikan. Salah satu fokusnya adalah menyediakan tempat berlindung sementara bagi warga yang rumahnya mengalami kerusakan dan masih khawatir akan gempa susulan.
Pembangunan tenda dilakukan secara bertahap bersama masyarakat. Sebanyak 15 unit tenda telah berdiri dan tersebar di Reok, Ronting, dan Pota. Pembangunan shelter juga menjadi ruang bagi masyarakat untuk terlibat langsung. Beberapa warga mendapatkan pelatihan pembuatan tenda agar selanjutnya dapat membangun tenda secara mandiri. Pelatihan tersebut terus dilakukan seiring pembangunan tenda keluarga dan shelter di beberapa titik.
Shelter yang dibangun ITB Peduli dirancang dengan mempertimbangkan kondisi pascabencana dan kebutuhan keluarga yang akan menggunakannya. Dosen Program Studi Arsitektur ITB, Dr.-Ing. Andry Widyowijatnoko, S.T., M.T., merancang shelter dengan struktur kerangka bambu berbentuk A-frame. Desain ini menggunakan material yang relatif mudah ditemukan dan dapat dibangun dengan teknologi sederhana.
“Konsep dasarnya dapat dirumuskan sebagai shelter yang mudah, cepat, murah, tetapi tetap memberikan volume ruang yang maksimal. Struktur A-frame dipilih karena secara struktural efisien dan sederhana untuk dibangun, terutama dalam kondisi pascabencana ketika keterbatasan material, tenaga kerja, dan peralatan menjadi pertimbangan utama,” ujar Andry kepada RRI, Senin 30 Agustus 2026.
Struktur dasar shelter tersebut dapat dibangun menggunakan sedikitnya 12 batang bambu. Bambu ditempatkan pada atau mendekati batas selubung bangunan sehingga tidak banyak mengambil ruang di dalam shelter. Dengan demikian, ruang yang tersedia tetap dapat digunakan keluarga untuk beristirahat maupun melakukan aktivitas sehari-hari.
Pembangunan shelter juga tidak hanya dilakukan oleh relawan. Masyarakat setempat turut dilibatkan dan mendapatkan pendampingan untuk memahami pola konstruksi hingga dapat merakit tenda secara mandiri. Dalam kondisi dengan peralatan terbatas, bambu dapat dikerjakan menggunakan alat sederhana seperti golok atau gergaji, sementara sambungannya dapat menggunakan mur dan baut maupun tali.
“Bambu bukan hanya dipilih karena murah atau tersedia secara lokal, tetapi karena karakter material dan sistem A-frame memungkinkan tercapainya tiga tujuan utama shelter pascabencana, yaitu mudah dibangun, cepat dibangun, dan murah, sekaligus menghasilkan ruang dalam yang relatif besar dan nyaman untuk keluarga,” jelas Andry. Pertimbangan terhadap kondisi iklim dan kesehatan juga menjadi bagian dari rancangan shelter. Bentuk atap yang tinggi memungkinkan udara panas bergerak ke bagian atas, sementara bukaan pada sisi shelter membantu sirkulasi udara. Penambahan jendela dengan kasa nyamuk juga dilakukan pada tenda keluarga untuk mendukung kenyamanan penghuninya.
Selain tempat berlindung, air bersih menjadi kebutuhan lain yang dipetakan oleh tim. Penyediaannya dilakukan secara bertahap, mulai dari pengadaan tandon air hingga pembangunan sistem yang dapat digunakan secara bersama-sama oleh masyarakat.
Tim melakukan penggelaran pipa HDPE dilengkapi dengan enam hidran umum, serta memasang dua tandon air masing-masing berkapasitas 2.200 liter di area pengungsian Ronting yang dihuni sekitar 500 jiwa.
Penyediaan air bersih tersebut diarahkan pada fasilitas yang dapat digunakan secara bersama-sama oleh masyarakat. Pendekatan ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan dasar warga selama berada di pengungsian, sekaligus mendukung kebersihan dan kesehatan masyarakat di tengah kondisi pascabencana.
Dukungan terhadap penanganan bencana ini terus berkembang melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Penyaluran tenda melalui kerja sama dengan Universitas Katolik Indonesia dilakukan pada 25 Agustus. Pada hari yang sama, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto turut mengunjungi tenda tipe A yang telah dibangun di NTT.
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari peninjauan terhadap pelaksanaan program ITB Peduli sekaligus melihat secara langsung solusi yang dihadirkan untuk masyarakat terdampak.
Dalam kesempatan tersebut, Brian Yuliarto menilai bahwa program ITB Peduli merupakan inisiatif yang sangat baik, terutama karena menghadirkan solusi konkret bagi para penyintas di lokasi bencana dengan mengandalkan material dan potensi lokal.
“Program ITB Peduli ini adalah program yang sangat baik. Salah satunya adalah menyiapkan pembangunan tempat tinggal sementara dengan mengandalkan infrastruktur yang berasal dari kondisi lokal,” ujar Brian mengapresiasi inovasi tenda bambu yang dirancang oleh akademisi ITB.
Ia juga menyampaikan agar gerakan kampus berdampak ini dapat terus berlanjut dan diperluas melalui berbagai bentuk bantuan esensial lainnya bagi masyarakat yang membutuhkan.
Selain pembangunan shelter dan penyediaan air bersih, tim bersama FK UI dan Paragon Corp merencanakan pembangunan shelter untuk mendukung kebutuhan fasilitas kesehatan. Hal ini menjadi bagian dari upaya untuk memastikan penanganan yang dilakukan dapat terus menyesuaikan kebutuhan di lapangan.
ITB Peduli bersama Rumah Amal Salman masih melanjutkan berbagai program untuk mendukung pemulihan masyarakat terdampak. Target yang tengah dikerjakan mencakup pembangunan hingga 150 shelter, 5 Instalasi Pengolahan Air (IPA), penyaluran 300 paket sembako dan hygiene kit, perluasan jaringan pipanisasi, pembangunan 2 community shelter, serta pendampingan teknis dari tim ITB.
Kehadiran ITB Peduli NTT menunjukkan bagaimana perguruan tinggi dapat mengambil peran lebih dekat dengan masyarakat ketika pengetahuan yang dimiliki diterjemahkan menjadi solusi yang dibutuhkan di lapangan. Prosesnya dimulai dari melihat langsung kondisi bangunan dan fasilitas kesehatan, memetakan kebutuhan warga, hingga menghadirkan shelter dan infrastruktur air bersih.
Keterlibatan masyarakat dalam pembangunan dan pelatihan pembuatan tenda juga menjadi bagian penting dari pendekatan tersebut. Bantuan tidak hanya diberikan dalam bentuk fasilitas yang sudah jadi, tetapi juga melalui transfer pengetahuan agar warga memiliki kemampuan untuk melanjutkan pembangunan sesuai kebutuhan.
Melalui rangkaian misi kemanusiaan, ‘ITB Peduli NTT’ bersama DPMK ITB, IA-ITB, IOM ITB, KM ITB, YPM Salman, dan Rumah Amal Salman serta para donatur berupaya menghadirkan respons yang cepat sekaligus berbasis pengetahuan. Upaya ini diharapkan turut memulihkan martabat penyintas bencana, serta dapat memuliakan para donatur yang memercayakan donasinya dalam merespons bencana gempa bumi di NTT.
Di tengah kondisi pascagempa yang masih berlangsung, shelter memberikan tempat berlindung bagi warga, sementara akses air bersih membantu memenuhi kebutuhan dasar selama masa pengungsian dan pemulihan.











Komentar