Oleh : Tya Amanah
Bulan Rajab umat Islam memperingati Peristiwa Agung Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Menjadi Momentum penting untuk merenungkan makna mendalam dari perjalanan dari perjalanan spiritual Rasullah SAW, Rasullah serta menggali hikmah yang relevan dengan tantangan kehidupan modern. Isra Mikraj sejatinya bukan sekedar peristiwa historis, melainkan sumber perjalanan besar yang seharusnya membentuk arah hidup dan peradaban umat.
Peringatan tersebut sering brhenti pada seremoni dan penguatan spiritual individual. Padahal, jika di telaah lebih dalam, isra Mikraj mengandung pesan yang jauh melampaui dimensi ibadah personal dan ritual semata.
Dengan demikian Rasullah SAW menghadapi tekanan berat di Makkah, penolakan, kabilah – kabilah Arab, serta wafatnya dua penopang utama dakwah, Khadijah RA dan Abu Thalib. Dalam situasi inilah Allah SWT memperjalankan Rasul Nya, bukan hanya untuk menghibur, tetapi untuk meneguhkan misi besar kenabian. Tidak lama setelah peristiwa isra Mikraj, terjadi Baiat Aqabah kedua, yang menandai kesiapan kaum Anshar untuk melindungi dan menegakkan kepemimpinan Islam di Madinah. Fakta ini menunjukan bahwa Isra Mikraj bukan hanya momentum spiritual, tetapi juga gerbang menuju perubahan politik umat secara ideologis.
Oleh karena itu untuk menunjukan ditegakkannya hukum Allah SWT. Larangan Rasullah SAW untuk memerangi seorang Imam selama ia masih menegakkan Shalat menegaskan bahwa makna “menegakkan Shalat” Mencakup penerapan hukum Allah dalam kepemimpinan dan pengaturan urusan umat.
Sejatinya, Isra Mikraj membawa pesan ideologis tentang kewajiban menegakkan syariah Islam dalam aspek kehidupan.
Hukum Allah tersingkir dari ranah publik dan digantikan oleh hukum buatan manusia yang lahir dari sekularime dan kapitalisme.
Akibatnya, umat Islam tercerai – berai dalam batas nasionalisme.
Pada saat yang sama, umat Islam dituntut membangun kesadaran kolektif atas penderitaan umat diberbagai penjuru dunia. Palestina, tanah suci yang menjadi bagian perjalanan Isra Mikraj Rasullah SAW, msih berda dalam penjajahan.
Sejatinya Umat Islam memiliki modal sejarah, identitas dan keyakinan untuk bangkit. Sebagai Umat Rasullah SAW dan pewaris peradaban Islam yang Agung. Umat ini pernah memimpin dunia dengan keadilan dan rahmat.
Perjuangan pemikiran politik yang konsisten, dipimpin oleh gerakan Islam ideologis, menjadi jalan untuk kehidupan Islam.
Momentum Rajab dan Isra mikraj hendaknya menjadi titik tolak bagi umat. Demi terwujudnya peradaban dunia yang adil penuh berkah.
Wallahualam Bissawab










Komentar