Penulis: Intan Diana Nurawaliyah (Duta Baca Kabupaten Tasikmalaya)
Setiap Agustus, kita merayakan kemerdekaan dengan mengibarkan bendera, mengikuti upacara, dan mengenang perjuangan para pahlawan. Namun, di tengah perayaan itu, ada pertanyaan yang layak kita renungkan: apakah kemerdekaan benar-benar sudah sampai ke kepala kita?
Kita memang telah terbebas dari penjajahan secara fisik. Tetapi penjajahan tidak selalu datang dengan senjata. Ia dapat hadir dalam bentuk yang lebih halus, ketika kita takut berbeda, menerima informasi tanpa memeriksa, percaya hanya karena sesuatu viral, atau mengikuti pendapat mayoritas tanpa pernah bertanya apakah itu benar.
Di tengah banjir informasi hari ini, kemampuan berpikir kritis menjadi bagian penting dari kemerdekaan. Tan Malaka melalui Madilog mengingatkan pentingnya berpikir secara logis. Sebab persoalan kita bukan lagi sekadar bagaimana mendapatkan informasi, tetapi bagaimana mengolahnya menjadi pengetahuan dan kesadaran.

Di sinilah literasi memiliki peran. Membaca bukan hanya untuk mengetahui, tetapi untuk memahami. Membaca melatih kita melihat berbagai sudut pandang, membandingkan informasi, mempertanyakan sesuatu, bahkan berani mengakui bahwa apa yang kita yakini mungkin saja keliru.
Sebab penjajahan paling berbahaya bukanlah ketika tubuh dipaksa tunduk, melainkan ketika pikiran dibuat tunduk tanpa merasa sedang ditundukkan. Kita dapat hidup dengan bebas, berbicara dengan bebas, dan memilih dengan bebas, tetapi tetap tidak merdeka jika cara berpikir kita sepenuhnya dibentuk oleh ketakutan, propaganda, algoritma, atau suara mayoritas. Tubuh yang bebas belum tentu menandakan manusia yang merdeka.
Karena itu, perjuangan kemerdekaan hari ini mungkin bukan lagi merebut tanah, melainkan merebut kembali pikiran kita sendiri. Berani bertanya ketika semua orang memilih diam. Berani berbeda ketika keseragaman dianggap sebagai kebenaran. Dan berani mengatakan “saya keliru” ketika kenyataan memaksa kita meninggalkan keyakinan lama. Sebab manusia yang benar-benar merdeka bukan manusia yang selalu benar, melainkan manusia yang tidak takut mencari kebenaran.
Sebagai Duta Baca Kabupaten Tasikmalaya, saya percaya bahwa menjaga kemerdekaan berpikir dapat dimulai dari hal sederhana, yaitu membaca lebih banyak, memeriksa lebih teliti, dan berpikir lebih dalam sebelum mempercayai sesuatu.
Sebab kemerdekaan bukan hanya tentang sebuah bangsa yang bebas berdiri di tanahnya sendiri. Kemerdekaan juga tentang manusia yang mampu menentukan apa yang ia pikirkan, apa yang ia yakini, dan mengapa ia memilih untuk mempercayainya. Jangan sampai setiap tahun kita merayakan kemerdekaan di luar diri, sementara di dalam kepala kita masih ada penjajahan yang kita pelihara sendiri.
Sebab bangsa yang merdeka bukan hanya bangsa yang mampu mengibarkan benderanya tanpa takut, tetapi bangsa yang manusianya berani berpikir tanpa diperbudak oleh ketakutan.












Komentar