oleh

Anak Muda Jangan Kehilangan Nyali untuk Memulai

Oleh: Dwi Arifin

Di tengah tekanan ekonomi Indonesia yang semakin terasa, mulai dari pelemahan daya beli, meningkatnya biaya hidup, gelombang PHK, hingga sulitnya lapangan pekerjaan pesimisme perlahan menjadi wajah baru generasi muda. Banyak orang mulai ragu memulai usaha karena merasa ekonomi sedang tidak baik-baik saja. Namun justru dalam situasi seperti inilah, keberanian untuk membangun kemandirian ekonomi menjadi semakin penting.

Pernyataan Chairul Tanjung dalam Jogja Financial Festival 2026 menjadi tamparan sekaligus motivasi bahwa modal usaha bukan hanya uang. Kemauan, kemampuan, relasi, dan keberanian mengambil risiko adalah modal yang sering kali lebih mahal dibanding sekadar kapital finansial. Pesan ini relevan dengan kondisi Indonesia hari ini, ketika banyak anak muda memiliki ide dan kreativitas tetapi terjebak dalam ketakutan karena tidak memiliki modal besar.

Di sisi lain, Hery Gunardi mengingatkan bahwa membangun usaha bukan perkara romantisme motivasi semata. Bisnis membutuhkan disiplin, pencatatan keuangan yang rapi, pengelolaan arus kas yang sehat, serta kemampuan membaca pasar. Banyak UMKM gagal bukan karena produknya buruk, melainkan karena keuangan pribadi dan bisnis bercampur tanpa kontrol yang jelas.

Dalam konteks ekonomi Indonesia saat ini, nasihat tersebut menjadi sangat relevan. Ketika konsumsi masyarakat melemah dan persaingan digital semakin agresif, pengusaha pemula tidak bisa lagi mengandalkan cara lama. Dunia usaha sedang bergerak menuju ekonomi berbasis teknologi dan efisiensi. Mereka yang lambat beradaptasi akan tertinggal oleh algoritma, marketplace, dan perubahan perilaku konsumen.

Apa yang disampaikan Chairul Tanjung mengenai dominasi TikTok dan e-commerce juga menunjukkan bahwa lanskap ekonomi telah berubah total. Hari ini, toko fisik bukan lagi syarat utama membangun bisnis. Anak muda di daerah sekalipun kini memiliki peluang yang sama untuk menjual produk ke seluruh Indonesia hanya melalui telepon genggam dan koneksi internet. Teknologi telah menurunkan entry barrier bisnis secara drastis.

Namun persoalannya, transformasi digital Indonesia belum sepenuhnya dibarengi dengan kesiapan ekonomi masyarakat. Banyak generasi muda akhirnya masuk ke dunia usaha karena terpaksa oleh sempitnya pekerjaan formal, bukan karena ekosistem bisnis yang sehat. Di sinilah negara seharusnya hadir lebih kuat: memastikan akses pembiayaan murah, pelatihan digital, stabilitas ekonomi, serta perlindungan terhadap UMKM lokal dari dominasi pasar besar.

Kita juga tidak boleh menutup mata bahwa kondisi makroekonomi sangat mempengaruhi psikologi publik. Ketika nilai tukar rupiah berfluktuasi, harga kebutuhan pokok naik, dan ketidakpastian global meningkat, masyarakat cenderung menahan konsumsi. Akibatnya, usaha kecil menjadi pihak pertama yang terkena dampak perlambatan ekonomi. Karena itu, semangat kewirausahaan harus dibarengi dengan kebijakan ekonomi yang menciptakan rasa aman bagi pelaku usaha.

Meski demikian, sejarah selalu menunjukkan bahwa banyak bisnis besar justru lahir dari masa krisis. Krisis memaksa orang berpikir kreatif, lebih efisien, dan lebih inovatif. Dalam ekonomi yang sulit, mereka yang mampu membaca perubahan perilaku pasar sering kali menjadi pemenang baru.

Pesan paling penting dari diskusi Jogja Financial Festival, jangan menunggu keadaan sempurna untuk memulai. Sebab dalam realitas ekonomi hari ini, kesempurnaan itu mungkin tidak pernah datang. Yang dibutuhkan bukan hanya modal uang, tetapi mental tahan banting, kemampuan belajar, dan keberanian untuk tetap bergerak di tengah ketidakpastian.

Indonesia membutuhkan lebih banyak generasi muda yang berani menciptakan lapangan kerja, bukan hanya menunggu pekerjaan. Karena di tengah ekonomi yang penuh tekanan, kewirausahaan bukan lagi sekadar pilihan karier, melainkan salah satu cara bertahan hidup.

 

TENTANG PENULIS

Saya adalah Dwi Arifin, seorang profesional di bidang keuangan dan manajemen bisnis yang memiliki ketertarikan besar terhadap analisis ekonomi, pengembangan startup, serta strategi bisnis berbasis data. Selain aktif di dunia profesional, saya juga memiliki minat dalam penulisan opini, pengembangan ide kreatif, serta membangun pemikiran yang dapat memberikan dampak positif bagi masyarakat dan dunia usaha.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *