Pewarta : Anis.
Koran SINAR PAGI, AMBON,- PDAM Kota Ambon, Perumdam PT Tirta Yapono, kembali menjadi sorotan tajam publik. Warga BTN Hative Kecil pecah kekesalannya setelah hampir sepekan penuh keran air mereka kering kerontang. Tanpa aliran air bersih sama sekali.
Parahnya, manajemen baru mengeluarkan flayer pemberitahuan gangguan pada Rabu, 21 Oktober 2026. Saat warga sudah terlanjur menjerit, sudah terlanjur membeli air tangki dengan harga mahal.
Ibu Elen, warga BTN Hative Kecil, menjadi representasi kemarahan warga. Ia mengaku aktivitas rumah tangganya lumpuh total.
“Air sudah hampir seminggu tidak jalan. Kami mau masak, mau mandikan anak sekolah, mau cuci piring saja susah. Kami ini pelanggan, bayar tiap bulan, bukan minta gratis. Tapi pelayanan seperti ini,” keluh Ibu Elen.
Ibu Elen juga menyindir keras klaim sepihak yang menyebut PT Tirta Yapono dalam kondisi sehat.
“Sangat disayangkan, di media ditulis PDAM Yapono sehat. Sehat apanya? Kalau sehat kenapa air kami mati seminggu baru ada pemberitahuan? Seharusnya hari pertama gangguan langsung kasih info, jangan setelah kami kering baru dikasih kertas,” tegasnya.
PDAM KOTA AMBON DINILAI GAGAL KELOLA PELAYANAN DASAR
Publik menilai ini bukan sekadar gangguan teknis pipa. Ini adalah gagalnya tata kelola pelayanan dasar di tubuh PDAM Kota Ambon.
Di bawah Plt Dirut Piter Saimima, PDAM Kota Ambon dinilai:
1. LAMBAT: Tanggap darurat buruk, informasi kalah cepat dari penderitaan warga.
2. TIDAK TRANSPARAN: Tidak menjelaskan penyebab kerusakan, wilayah terdampak, dan kapan target normalisasi.
3. TIDAK SOLUTIF: Hanya menebar flayer, tanpa aksi nyata seperti pengiriman mobil tangki air gratis ke lokasi krisis.
Tiga pertanyaan keras kini mengarah ke Kantor Pusat PDAM Kota Ambon:
Mana tanggung jawab PDAM Kota Ambon sebagai penyedia air bersih?
Mengapa flayer baru terbit 21 Oktober 2026 setelah air mati seminggu?
Sampai kapan warga BTN Hative Kecil harus menunggu tanpa kepastian?
Warga tidak butuh pencitraan sehat di media. Warga butuh air mengalir di keran rumah mereka, apalagi saat musim kemarau yang panjang ini.
“Kami tidak butuh tulisan sehat di koran. Kami butuh air jalan. Tolong PDAM Kota Ambon jangan tutup mata,” pungkas Ibu Elen.
Warga mendesak Wali Kota Ambon mengevaluasi total kinerja PDAM Kota Ambon. Jika urusan air bersih saja tidak becus, bagaimana mau disebut perusahaan daerah yang sehat?








Komentar