oleh

Dokter paru: Kelompok Rentan Waspadai Dampak Asap Karhutla

Oleh : Sri M Awaliyah (Guru SD di Kab. Bandung)

Pengendara memakai masker saat pembagian masker gratis di simpang empat RS Charitas Palembang, Sumatera Selatan. Pemerintah Kota Palembang membagikan 16.500 masker kepada masyarakat untuk mencegah terjangkitnya penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) akibat bencana kabut asap di Palembang dampak Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang terjadi di sejumlah Kabupatan/Kota yang ada di Sumatera Selatan. Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama bagi kelompok rentan. Feni mengatakan kelompok yang tergolong rentan atau paling mudah terdampak asap karhutla antara lain ialah ibu hamil, anak-anak, balita, lansia, hingga penderita penyakit kronis saluran napas dan jantung seperti asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), penyakit jantung, dan gagal jantung. (https://megapolitan.antaranews.com)

Asap karhutla memicu krisis ISPA berat yang mengancam keselamatan balita, anak-anak, dan ibu hamil/menyusui. Di wilayah terdampak (seperti Kalsel), perempuan menghadapi beban ganda, yakni selain mengalami gangguan kesehatan reproduksi/kehamilan, mereka harus mengurus anggota keluarga yang sakit di tengah kelangkaan air bersih dan rusaknya sumber penghidupan harian. Krisis akibat asap karhutla menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan tidak hanya berdampak pada alam, tetapi langsung mengancam kehidupan dan kesehatan rakyat, dan ini menunjukkan perlunya tata kelola lingkungan yang menempatkan keselamatan manusia dan kemaslahatan umum di atas kepentingan ekonomi semata.

Karhutla terus berulang akibat pembukaan lahan yang massif, sementara respons pemerintah sebatas pemadaman di hilir tanpa menyetop pemicu utama di hulu. Pembukaan lahan dalam skala besar dapat meningkatkan risiko kebakaran, terutama ketika pengelolaan lahan dilakukan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Ketika pemerintah lebih banyak bertindak setelah titik api muncul—memadamkan kebakaran, mengevakuasi warga, atau membagikan bantuan—sementara pengawasan terhadap aktivitas pembukaan lahan dan faktor penyebab kebakaran tidak diperkuat, maka penanganannya bersifat reaktif, bukan preventif. Akibatnya, kebakaran dapat berulang dari tahun ke tahun. Inilah ciri khas negara yang berlandaskan sekuler kapitalis, mereka memastikan kepentingan ekonomi para oligarki dan mengorbankan keselamatan masyarakat.

Kasus ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan rakyat dapat terjadi akibat kesalahan tata kelola negara di luar sektor kesehatan, dalam hal ini adalah tata kelola hutan. Hal ini seyogianya menjadi perhatian negara. Tindakan pencegahan, lanjutnya, semestinya bisa dilakukan secara proaktif oleh negara, apalagi di tengah fenomena El-Nino “Godzilla” yang sudah diprediksi sejak April 2026. Kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut) meningkat hingga ratusan per hari. Hal ini tentu sangat membahayakan kesehatan rakyat terlebih kelompok rentan, yaitu anak-anak, ibu hamil dan lansia, Inilah akibat dari penerapan sistem kapitalisme. Individu dan perusahaan hanya berpikir tentang keuntungan yang diraih, tak peduli adanya bahaya yang mengancam rakyat.

Rakyat sangat membutuhkan penguasa yang berperan sebagai raa’in (pengurus) dan junnah (pelindung) rakyat karena sesungguhnya Islam memerintahkan demikian. Rasulullah saw bersabda, “Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyatnya.” (HR Bukhari dan Muslim), dan sabda Nabi Muhammad, “Sesungguhnya Imam/Khalifah adalah perisai orang-orang berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung.” (HR Muslim). Rakyat, membutuhkan negara yang peduli pada kesehatan rakyat sehingga akan melakukan semua upaya untuk mencegah terjadinya kondisi yang membahayakan rakyat. Tidak hanya dari sektor kesehatan, tetapi juga sektor lain seperti dalam pengaturan hutan.

Rakyat juga membutuhkan negara yang proaktif dan sigap memberikan tindakan untuk mencegah menyebarnya bahaya termasuk asap yang mengganggu pernafasan dan akan membuat generasi lemah. Profil negara demikian, hanya mungkin terwujud dalam Khilafah yang berpegang kepada syariat Allah secara kafah. Hanya Khilafah, yang mampu menegakkan sistem sanksi yang tegas dan menjerakan pada pihak yang menyebabkan karhutla. Apalagi karhutla tidak hanya membahayakan kesehatan, tetapi juga lingkungan, harta, bahkan kesehatan mental. Untuk menyelamatkan generasi dan kelompok rentan, kita butuh Khilafah. Sistem Khilafahlah yang akan menjaga kesehatan rakyat secara komprehensif. Dalam kasus karhutla, Khilafah akan menerapkan tata kelola hutan sesuai dengan syariat. Tata kelola ini akan mewujudkan lingkungan dan udara bersih, sehingga manusia terlindungi dari bahaya karhutla.

Wallahu a’lam Bishowwab

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *