Pewarta : Anis
Koran SINAR PAGI, Depok, – Semarak HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Depok ditandai dengan sejarah baru. Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) secara resmi mencatat pembentangan kain Merah Putih raksasa secara vertikal dari gedung Apartemen Evenciio, Jalan Margonda sebagai rekor dunia.
Direktur Operasional MURI, Awan Rahargo* mengatakan, aksi ini menjadi yang pertama di dunia.
Tim juri MURI sudah berkoordinasi dengan lembaga rekor Asia dan dunia. Hasilnya, belum pernah ada pembentangan seperti ini sebelumnya. Karena itu kami mengukuhkannya sebagai rekor dunia,” ujar Awan di lokasi, Minggu (16/8/2026).
Bendera raksasa tersebut memiliki ukuran 120 meter x 10 meter, dengan total luas 1.200 meter persegi. Pembentangan ini merupakan hasil kolaborasi Apartemen Evenciio bersama Pemkot Depok sebagai rangkaian peringatan kemerdekaan.
Bagi MURI, kegiatan ini bukan hanya soal rekor.
Ini wujud penghormatan kepada para pahlawan dan peneguhan semangat nasionalisme. Ini cinta tanah air sekaligus pengingat bahwa kemerdekaan harus terus kita jaga bersama,” tegas Awan.
Direktur Utama Evenciio, Adi Suryalaksono, mengungkapkan pembentangan dimulai sejak pukul 02.00 WIB, Minggu (16/8) dan akan diturunkan pada Senin (17/8) sore bertepatan puncak peringatan HUT RI.
Ini tahun kedua kami menggelar. Rencananya akan kami rutinkan setiap tahun agar semangat Merah Putih terus hidup di masyarakat,” kata Adi.
Apresiasi juga datang dari pemerintah daerah. Kepala Kesbangpol Kota Depok, Dudi Miraz berharap kegiatan serupa terus berlanjut.
Mudah-mudahan konsisten. Kita bersama-sama menjaga semangat kemerdekaan, kebangsaan, dan gotong royong,” ujarnya.
Dandim 0508/Depok Kolonel Inf. Ginanjar Wahyutomo turut hadir dan mengapresiasi kegiatan tersebut.
Ini luar biasa. Di tengah kota kita bisa membentangkan kain Merah Putih sebesar ini, apalagi sampai tercatat rekor MURI. Semoga membawa semangat kebangsaan dan dampak positif bagi masyarakat Kota Depok.
Dengan dikibarkannya Merah Putih setinggi 120 meter itu, nama Depok kini resmi tercatat dalam sejarah dunia, ujar Ginanjar.








Komentar